Filosofi Peci yang Tak Lekang Oleh Waktu

 

Di Indonesia, banyak orang sering kali menghubungkan peci kepada pria Muslim yang hendak solat di masjid. Namun tahukah Anda bahwa arti dari peci bukan hanya itu saja? Peci memegang perana yang cukup penting bagi sejarah Indonesia. Pada zaman penjajahan, banyak sekali para pejuang yang menggunakan peci sebagai aksesoris sehari-harinya. Jika Anda memperhatikan baik-baik foto dari presiden Indonesia, mulai dari presiden yang pertama hingga sekarang, mereka semua menggunakan peci untuk foto resmi mereka. Tentunya peci tidak digunakan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Bukan hanya presiden saja, namun wakil presiden dari negara tercinta kita juga menggunakan peci untuk foto resminya. Foto-foto tersebut dipajang di banyak tempat, seperti sekolah dan kantor pemerintahan. Karena itulah tidak heran jika sedang ada acara menyangkut pemerintahan dan Pendidikan, banyak pria Muslim yang menggunakan peci pula.

 

Filosofi Peci di Indonesia

Meskipun begitu, ternyata bukan hanya pria Muslim saja yang menggunakan peci, lho. Jika Anda melihat mereka yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah maupun anggota dewan ternyata juga menggunakan peci. Meskipun bukan memeluk agama Islam, namun cukup banyak pria yang sedang berkampanye turut menggunakan peci. Filosofi peci pun bergeser bukan hanya sebagai identitas dari orang Islam saja. Peci juga bisa menyimbolkan kesan gagah, berwibawa, serta memberikan aura nasionalis pula bagi sang pemakai. Karena itulah tidak heran jika dalam acara tertentu, banyak pria yang menggunakan peci terlepas mereka adalah pria Muslim atau tidak. Tidak bisa dipungkiri bawah peci merupakan salah satu identitas kebangsaan kita. Bahkan Presiden Soekarno pun pernah menyatakan bahwa peci merupakan identitas dari pria Indonesia.

 

Sejarah Peci di Indonesia

Namun hal yang cukup kontradiktif datang pula dari peci. Aksesoris yang digunakan sebagai penutup kepala ini bukanlah asli dari Indonesia. Lalu bagaimana bisa peci datang ke Indonesia dan menjadi salah satu simbol dari negara kita? Tentunya Anda pasti tahu bahwa terdapat istilah lain untuk peci yaitu kopiah dan songkok. Sejarah ketiga nama itu ternyata bukan dari Indonesia. Peci sangat erat kaitannya dengan tutup kepala orang Turki yaitu Fez. Sedangkan di Belanda terdapat pula penutup kepala yang diberi nama Petie yang artinya topi kecil. Kopiah berassal dari Arab yang mana kata tersebut diambil dari kata kaffiyeh, keffieh, dan kufiyah. Kata-kata tersebut mempunyai arti tutup kepala. Namun bentuk kopiah berbeda dengan peci. Peci dan kopiah mempunyai bentuk yang cukup mirip yaitu bentuknua bulat dan terdapat bagian yang mirip dengan kanopi seperti pada topi. Lalu bagaiman dengan songkok? Songkok berasal dari Melayu. Bisa dibilang songkok adalah peci versi Melayu.

 

Sebelum Indonesia kedatangan peci, kopiah, dan songkok. Para pria di Indonesia juga sudah terbiasa menutup kepala mereka. Pada zaman dahulu, pria Indonesia menggunakan ikat kepala. Jika seorang pria tidak menggunakan tutup kepala, maka pria tersebut akan dianggap telanjang. Karena itulah ikat kepala merupakan aksesoris yang menyimbolkan kesopanan pula. Pada awalnya, peci dikenalkan oleh pedagang Arab yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Islam. Lama-kelamaan peci semakin lebih mudah didapatkan dan banyak sekali pria yang menggunakan peci. Penggunaan peci di zaman tersebut bukan hanya untuk acara resmi saja, bamun untuk kegiatan sehari-hari pun juga dipakai. Peci digunakan oleh orang dari berbagai kelas sehingga peci memang ditunjukan untuk dipakai oleh banyak kalangan. Bisa dibilang filosofi peci ini adalah salah satu pemersatu bangsa. Karena merangkul semua lapisan masyarakat. Tidak heran jika banyak pengrajin peci kopiah songkok di Indonesia karena bangsa kita memang membutuhkan penutup kepala ini.